Tercemar Limbah Minyak, Nelayan Budidaya Ikan Kerapu di Pulau Pari Menjerit

  • Whatsapp
Foto : Dampak Pencamaran Minyak Hitam (Sludge Oil) Ikan Kerapu Milik Pembudidaya di Pulau Pari pada Mati. (Istimewah)

Seperti arti pribahasa ‘Malang tak boleh ditolak, mujur tak boleh diraih’ pantaslah menggambarkan nasib sejumlah nelayan budidaya ikan kerapu di Pulau Pari, Kepulauan Seribu Selatan saat ini.

Pasalnya, setelah limbah minyak hitam (sludge oil) mencemari perairan Pulau Pari pekan lalu usaha budidaya yang diharapkan meraih rezeki lebih, kini tersisa hanya hayalan dan kekecewaan.

Bacaan Lainnya

loading...

Kini, puluhan ikan kerapu lodi merah, cantang, dan bebek yang bernilai ekonomi tinggi dan siap jual didapati terapung tak bernyawa menghiasi keramba-keramba mereka.

“Pengen rasanya menjerit, sudah mau panen malah pada mati dan ‘cele-cele’. Sakit hati saya,” ungkap Tono (38), salah seorang nelayan budidaya kerapu di Pulau Pari, Rabu (19/8).

Tono menyebutkan harga jual ikan kerapu jenis bebek dalam kondisi hidup mencapai Rp 500 ribu per kilo. Sedangkan dalam kondisi mati hanya sekitar Rp 60 ribu per-kilo.

“Jauh bedah harganya, padahal ikan sudah siap panen. Akibat pencemaran ini kita nelayan budidaya rata-rata rugi hingga Rp 8 – 10 jutaan per orang,” sebutnya.

Ditambahkan Tono. saat ini kelompok pembudidaya di Pulau Pari sebanyak 20 orang dan budidaya mandiri sebanyak 10 orang. Semua pembudidaya itu terkena dampak pencemaran minyak hitam.

“Hitung total bisa mencapai ratusan juta kerugian-nya. Kami sudah melaporkan ke penyuluh dari Sudin KPKP Kepulauan Seribu dan hingga kini belum ada tindak lanjut,” jelasnya.

Lebih lanjut, Tono mendesak agar pihak-pihak terkait segera mencari sumber pencemaran dan yang bertanggung jawab atas terjadinya pencemaran.

“Kejadian ini bukan yang pertama, bahkan hampir tiap tahun terjadi. Kami nelayan budidaya meminta dengan sangat agar pelaku pencemaran bertanggung jawab,” tuturnya.

Kepala Sudin Ketahanan Pangan Pertanian dan Kelautan (KPKP) Kepulauan Seribu, Devi Lidya mengatakan, dampak pencemaran tumpahan minyak di Kepulauan Seribu mulai merusak biota laut dan juga budidaya ikan milik warga sekitar.

Kerugian materi pun, diyakini sangat besar nilainya bagi masyarakat.

“Ya benar sudah ada dampak. Rumput laut, jaring-jaring pada keramba apung . Otomatis juga ada yang mati,” ungkapnya.

Menurutnya, selain di wilayah Pulau Tidung, kerusakan pada biota laut dan budidaya rumput serta ikan milik warga terjadi di dekat Pulau Pari.

“Untuk penanganannya sendiri, saat ini kita masih dirapatkan dengan Kabupaten,” ujarnya.

loading...

Pos terkait