Terkait Pencemaran, KNPI : Pertamina Jangan Selalu Tebar Janji Konpensasi

  • Whatsapp
Foto : Limbah Pek Mencemari Lokasi Budidaya Ikan di Pulau Lancang.

Dewan Pengurus Daerah II Komite Naisonal Pemuda Indonesia (DPD II KNPI) Kepulauan Seribu meminta agar PT Pertamina tidak selalu menebar janji realisasi konpensasi bagi warga terdempak pencemaran limbah pek yang terjadi di wilayah Kepulauan Seribu pertengahan tahun 2019 lalu.

“Jangan hanya tebar janji, harus segara direalisasikan karena warga terdampak sangat membutuhkan di saat pandemi ini,” tegas Ketua DPD II KNPI Kepulauan Seribu, Lukman Hadi saat berbincang dengan beritapulauseribu.id di Pelabuhan Marina Jaya Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (8/8/2020).

Bacaan Lainnya

loading...

Berdasarkan informasi yang diterimanya, Lukman mengatakan, baru sekitar 20 persen warga terdampak pencemaran yang menerima konpensasi. Itupun mereka yang terdampak dari segi kerusakan lingkungan, sementara bagi nelayan budidaya yang terdampak langsung sebagian besar belum menerima konpensasi.

“Harusnya nelayan budidaya diprioritaskan, karena akibat pencemaran praktis usaha budidaya mereka merugi, bahkan hingga puluhan juta rupiah,” kata Lukman.

Dia menyebutkan, sebanyak 96 anggota Kelompok Budidaya Ikan (Pokdakan) di Pulau Lancang saat ini sangat mengharapkan realisasi konpesasi dampak pencemaran guna untuk menambah modal usaha budidaya.

Selain konpesasi berupa bantuan langsung tunai kepada warga terdampak, pihak Pertamina seharusnya juga melakukan upaya rehabilitasi lingkungan dengan melaksanakan program transplantasi karang guna memperbaiki ekosistem bawah laut di wilayah terdampak pencemaran.

Sementara, Ketua Pokdakan Pasir Putih Pulau Lancang Mat Hariri saat di konfirmasi mengaku bahwa sebagain besar kelompok budidaya ikan di Pulau Lancang belum menerima konpensasi dan hanya dijanjikan sejak awal tahun ini.

“Mana hanya janji-janji aja, katanya awal tahun sudah dibayar, tapi sampai saat ini belum terealisasi,” ujarnya.

Menurut Hariri, pencemaran yang terjadi tahun lalu sangat merugikan nelayan budidaya. Pasalnya, akibat limbah minyak itu hampir semua ikan budidaya mati dan bahkan yang bertahan tidak berkembang dengan baik.

“Terutama bibit kerapu yang baru satu minggu kami tebar, semuanya mati dan ikan-ikan yang sudah berukuran besar juga banyak yang mati,” jelasnya.

Hariri berharap PT Pertamina harus juga memprioritaskan konpensasi bagi nelayan budidaya di Pulau Lancang dan jangan hanya di daerah lain seperti Kerawang dan sekitarnya.

 

Asisten Perekonomian dan Pembangunan (Asekbang) Bupati Kepulauan Seribu Iwan P Samosir mengatakan terkait dengan konpensasi warga terdampak akan dibayarkan pada bulan Agustus ini. Hal itu, berdasarkan hasil rapat virtual yang dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Seribu dengan pihak PT Pertamina pada Jumat 7 Agustus 2020.

Akan tetapi, disampaikan Iwan, sebelum pembayaran tim lapangan dari PT Pertaminan akan melakukan uji petik dan pemastian data penduduk dengan buku tabungan oleh pihak perbankkan.

“Intinya Pertamina sedang menjadwalkan dan kita tunggu Agustus ini realisasinya,” ujar Iwan.

Seperti diketahui, sekitar 22 Juli 2019 lalu terjadi kebocoran minyak dan gelembung gas di sekitar anjungan lepas pantai YYA, blok Minyak dan Gas Offshore North West Java (ONWJ) PT Pertamina yang terletak sekitar dua kilometer dari Pantai Utara Jawa, Kerawang, Jawa Barat.

Limbah minyak mentah itu mengotori sejumlah pantai di Karawang hingga Muara Gembong, Kabupaten Bekasi. Beberapa pantai di Karawang yang terdampak di antaranya Pantai Tanjungpakis, Pantai Sedari, Pantai Pisangan, Samudera Baru, Pantai Pelangi.

Sementara di Kepulauan Seribu terdapat tujuh pulau yang tercemar, yakni Pulau Untung Jawa, Pulau Bidadari, Pulau Ayer, Pulau Rambut, Pulau Bokor, Pulau Damar, dan Pulau Lancang.

Tumpahan itu juga mengakibatkan ditutupnya sejumlah tempat wisata pantai dan menurunnya tangkapan nelayan. (Gus/Qon)

Pos terkait