Penggunaan Cantrang dan Pukat Harimau Marak, Nelayan Pulau Lancang Minta Ditertibkan

  • Whatsapp

Sejumlah nelayan asal daerah pesisir Tangerang, Banten diduga menggunakan jaring cantrang dan pukat hariamu saat menangkap ikan diperiaran Kepulauan Seribu. Hal itu dikeluhkan oleh nelayan dari Pulau Lancang, Kelurahan Pulau Pari, Kepulauan Seribu Selatan.

“Sudah marak, mereka pakai cantrang dan pukat harimau. Habis karang kita digerus,” ujar Naki (34) seorang nelayan Pulau Lancang kepada beritapulauseribu.id, Senin (13/1).

Dia mengaku menyayangkan penggunaan dua alat tersebut. Selain merusak ekosistem laut, cantrang dan pukat harimau dapat merusak jaring nelayan lain.

“Pukat harimau itu kan ditarik di sepanjang rute. Saat ditarik itu dapat menyangkut jaring nelayan lain dan jelas membuat rusak,” katanya, Kamis (3/8/2017).

Situasi seperti itu, menurutnya memicu konflik antar nelayan. “Iya, karena cantrang dan pukat harimau itu merusak, jadi kadang sampai membuat konflik nelayan,” paparnya.

Penggunaan cantrang dan pukat harimau, sebut Naki sudah semakin bertambah. Hal itu dinilai lantaran tidak ada ketegasan dari pemerintah dan pihak terkait pelarangan penggunaan dua alat tersebut.

“Kami minta ada perhatian dari pemerintah. Jangan sampai larangan cantrang dan pukat harimau justru jadi konflik, karena kami sangat tidak setuju,” ucap dia.

Asisten Perekonomian dan Pembangunan (Asekbang) Kabupaten Kepulauan Seribu, Iwan P. Samosir mengatakan, informasi nelayan terkait penggunaan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan sangat dibutuhkan.

Hal itu, sambung dia, sebagai dasar dari upaya penertiban yang dilakukan oleh Suku Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) Kepulauan Seribu.

“Ini kegiatan rutin Sudin KPKP untuk mengambil tindakan tegas kepada nelayan yang menggunakan alat tangkap yang tidak memenuhi ketentuan. Saya sudah minta Sudin KPKP menindaklanjuti,” tegas Iwan.

loading...
  • Whatsapp