Diberhentikan Sepihak, Sa’diyah Menangis Histeris

  • Whatsapp

Sa’diyah (36) tak kuasa menahan tangisnya, dia histeris setelah mengetahui dirinya tak lagi diterima dan diberhentikan sebagai petugas Penyedia Jasa Perorangan Lainnya (PJLP) Sekretariat Kabupaten Kepulauan Seribu.

“Mana keadilan pak ?, mana keadilan pak ?, mana keadilan pak ?, mana keadilan pak ?,” jerit histeris Sa’diyah berulang. Sesekali dia mengahapus air mata yang membasahi wajahnya.

Ya, Sa’diyah alias Popi adalah satu dari 8 petugas PJLP yang terpaksa angkat kaki lantaran dinilai tak memenuhi kriteria proses rekrutmen untuk petugas kebersihan di Gedung Kabupaten Kepulauan Seribu.

“Pada buta matanya, apa bapak tidak lihat ?, saya dari jam empat subuh sudah kerja, yang tagih kreditan, bikin plampang, ikut ketring pada lulus semua, yang tugas di rudin, kenapa saya tidak,” isak Sa’diyah, Jumat (27/12) malam.

Masih histeris, Sa’diyah menuturkan, dirinya telah 9 tahun lebih mengabdi sebagai petugas PJLP kabupaten. Entah mengapa, pada rekrutmen untuk tahun 2020 mendatang, dirinya tersingkir dengan alasan yang tidak dapat diterimanya.

“Mereka tega, saya kerja mati-matian, anak sakit saya tak hiraukan, karena saya ingin kerja. Yang enak ma enak kerja yang cape ma cape, apa mereka tidak lihat dengan mata kepala sendiri,” tangis pilu Sa’diyah yang beberpa waktu lalu sempat tak sadarkan diri.

Senasib, Irfan (45) warga Pulau Pramuka RT 003/05 Kelurahan Pulau Panggang mengatakan proses rekrutmen PJLP Kabupaten kental dengan nuansa ketidakadilan. Pasalnya, dia menduga ada oknum tertentu yang bermain.

“Aneh, kita yang sudah tahunan kerja tanpa peringatan malah di-stop. Sementara mereka yang masih ‘kerabat’ justru diterima. Sangat tidak adil,” ungkap bapak 3 anak ini yang mengaku sudah pasrah.

Menurut dia, bila proses rekrutmen ini hanya untuk orang dekat atau saudara kenapa harus diumumkan. Pun dengan pemberitahuan hasil rekrutmen, tidak ditunjukkan nilai atau kriteria apa yang kurang sehingga ada pemberhentian kerja.

“Memang dari awal, sistem like and dislike sudah ada. Kita yang tidak disuka, siap-siap ditendang. Coba aja lihat yang diterima sekarang, banyak dari keluarga mereka,” tuding Irfan.

Menyikapi masalah tersebut, Ketua Dewan Kabupaten Kepulauan Seribu, Robin mengaku prihatin. Dirinya berharap hal ini menjadi perhatian semua pihak, tak terkecuali Pemerintah Kabupaten Kepulauan Seribu.

“Sudah jelas ada sesuatu yang berbau tidak sedap, ini semua harus kita benahi, agar tidak ada gejolak di masyarakat. Karena itu, kami ingin minta penjelasan dari pihak terkait, agar dikemudian hari tidak terulang lagi,” tegas Robin.

Dia menghimbau dan memberi masukan agar rekrutmen PJLP harus mengutamakan, putra pulau yang lama berdomisili di pulau, memeiliki latar belakang yang baik, dan sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan.

“Sudah saatnya kita berubah ke arah yang lebih baik. Jangan melakukan sesuatu dengan menghalalkan segala cara, sehingga masyarakat lain menjadi korban. Kita ingin kejadian ini tidak terulang,” tuturnya.

Terkait dengan rekrutmen PJLP Kabupaten, pihak terkait enggan berkomentar ketika redaksi beritapulauseribu.id meminta klarifikasi. Hingga berita ini di-publish, gejolak penerimaan PJLP masih mewarnai kehidupan sosial masyarakat di Kepulauan Seribu.

  • Whatsapp