Sampah ‘Kiriman’ Momok Budidaya Rumput Laut di Pulau Seribu

  • Whatsapp

Sampah kiriman dari 13 muara sungai menjadi ancaman serius kelangsungan dan aktivitas budidaya rumput laut di Kepulauan Seribu. Akibat sampah, tumbuh kembang rumput laut kerap terganggu, sehingga hasil produksi menjadi tidak maksimal.

“Ancaman masih dari sampah, apalagi sampah kiriman dari muara sungai, harus ada upaya lebih keras untuk menanggulanginya. Kita berharap masalah sampah di laut menjadi perhatian,” ungkap Penggiat Budidaya Rumput Laut di Kepulauan Seribu, Noval Abudzar, Rabu (25/12).

Menurut dia, pola penanggulangan sampah di laut Kepulauan Seribu harus mulai dari sumbernya. Pihak terkait melakukan upaya penahanan dan pembersihan mulai dari muara sungai sehingga tidak terbawa arus ke tengah laut.

“Masalah ini memang belum tuntas. Apalagi saat musim hujan, berbagai macam dan jenis sampah terlihat hanyut di laut. Ini memprihatinkan dan ancaman bagi nelayan rumput laut,” tegas Noval usai melakukan panen rumput laut di Pulau Pramuka, Kelurahan Pulau Panggang, Kepulauan Seribu Utara.

Plt. Kepala Sudin Lingkungan Hidup Kepulauan Seribu, Yayat Supriatna mengatakan, untuk sampah kiriman dari muara sungai di wilayah Jakarta darat tidak ada masalah. Pasalnya, sistem filterisasi sampah sudah berkerja optimal.

“Yang kita khawatirkan ‘kado’ sampah dari muara sungai di wilayah Tengerang dan Bekasi. Ini butuh kerja ekstra, karena sampah yang hanyut di tengah laut cukup sulit diambil,” jelasnya.

Menanggapi aktivitas budidaya rumput laut, Yayat mengajak para nelayan rumput laut untuk segera memberikan informasi bila melihat hanyutan sampah. Pihaknya akan segera melakukan upaya pembersihan.

“Segera informasikan ke kami, untuk pelayanan masyarakat tak terkecuali nelayan rumput laut kami akan berusaha maksimal,” janji Yayat.

loading...
  • Whatsapp