Pulau Cipir dan Mitos Kapten Iblis The Flying Dutchman

  • Whatsapp

BPS.id – Yang kita ketahui tentang Pulau Cipir, di era VOC dan Hindia-Belanda disebut Eiland Kuiper, mungkin terbatas pada sejarah pulau itu sebagai karantina haji dan penopang bagi kegiatan industri perkapalan Pulau Onrust di era VOC.

Ada sekelumit sejarah Pulau Cipir yang luput dinarasikan para sejarawan. Akibatnya, para travel blogger yang sekadar copy-paste relatif tidak pernah menyinggungnya. Terlebih, sekelumit sejarah Pulau Cipir yang hilang ini tidak memiliki bukti arkeologis.

Pulau Cipir adalah bagian penting dalam mitos Barend Fockesz, atau Bernard Fokke — kapten De Kroonvogel atau kapal iblis Flying Dutchman. Tahun 1678, setelah berlayar tiga bulan sepuluh hari — versi lain mengatakan tiga bulan empat hari — dari Amsterdam ke Batavia, sebuah patung batu berdiri di pulau tak berpenghuni ini.

Patung Fockesz, berjaket pelaut dan celana pendek, menjulang tak jauh dari pantai dan dapat dilihat setiap kru kapal yang akan masuk ke Sunda Kelapa. Patung itu bertahan sampai dua pergantian abad, atau sebelum dihancurkan Inggris tahun 1811.

Fockesz Si Pemuja Iblis

Fockesz adalah pelaut biasa, tapi menjadi luar biasa setelah mampu berlayar Amsterdam-Batavia selama enam bulan. Normalnya, tentu saja dengan menelusur jalur biasa, lama perjalanan Amsterdam-Batavia antara delapan sampai 12 bulan.

Perjalanan delapan bulan bisa dicapai jika kapal tak membawa beban berat. Jika sarat muatan, kapal harus berlayar selama 12 bulan.

Fockesz menabrak semua aturan pelayaran. Ia mencari rute singkat untuk sampai ke Batavia, salah satunyua dengan memotong rute pelayaran. Namun ia kerap mengeluh waktu enam bulan masih terlalu lama. Ia yakin ada cara lain berlayar lebih cepat.

Tahun 1678, saat ditugaskan membawa setumpuk surat untuk Gubernur Jenderal VOC di Batavia Rijckloff van Goens, ia melakukan sesuatu tidak biasa. Theo Meyer, dalam The Flying Dutchman and Other Folktales from the Netherlands, menulis Fockesz mengundang iblis untuk membantunya berlayar lebih cepat.

Iblis, tanpa diketahui awak kapal, naik ke atas kapal dan membantu pelayaran Fockesz dari Amsterdam ke Batavia. Kapal De Kroonvogel meluncur dengan seluruh layar terkembang, dan mencapai Batavia dalam waktu tiga bulan beberapa hari.

Di Sunda Kelapa, Fockesz dan seluruh awak De Kroonvogel disambut decak kagum pelaut dan petinggi VOC. Ia dianugerahi banyak handiah; medali dan kalung emas, serta satu koper koin perak dan emas Spanyol.

Setelah meninggalkan Batavia, VOC mendirikan patung Fockesz di Pulau Cipir. Fockesz, sesuai kontrak, melayani VOC selama tujuh tahun. Kapal De Kroonvogel menjadi terkenal dan pelaut menyebutnya The Flying Dutchman.

Selama tujuh tahun itu, Fockesz sebenarnya bukan lagi kapten kapal tapi budak iblis. Meyer mengatakan iblis benar-benar mengambil alih kapal dan seluruh awaknya.

Setelah tujuh tahun, Fockesz, De Kroonvogel, dan seluruh awaknya, berlayar entah ke mana. De Kroonvogel mengarungi tujuh samudera tanpa pernah berlabuh di mana pun. De Kroonvogel resmi menjadi kapal iblis Flying Dutchman.

Kapal bisa muncul tiba-tiba di tengah samudera, berlayar memotong jalur kapal lain hingga terjadi tabrakan. Cerita para pelaut menyebutkan De Kroonvogel bisa muncul tiba-tiba di sisi kapal lain, dan Fockesz yang tua dan kurus memanggil kapten kapal untuk meminta tolong menyerahkan surat ke Heeren XVII, atau 17 petinggi VOC di Amsterdam. Sampai saat ini tidak ada kapten kapal yang bersedia menerima surat itu.

Patung Fockesz bertahan sampai dua pergantian abad. Patung menakutkan, yang membuat Admiral Dourie dari AL Inggris tidak berani menyerang Batavia pada tahun 1808.

Tiga tahun kemudian, beberapa pelaut nekat mendarat di Pulau Cipir dan menghancurkan patung Fockesz sampai ke pondasinya. Patung dibuat berkeping-keping, agar benar-benar lenyap.

Penghancuran dimaksudkan untuk mengubur ketakutan pelaut terhadap Fockesz The Flying Dutchman. Setelah penghancuran, tentara Inggris mendarat di Cilincing dan mengalahkan Belanda di Jatinegara.

Mitos The Flying Dutchman di Pulau Cipir, dan di sekujur Kepulauan Seribu, benar-benar hilang setelah penghancuran itu. Tidak ada yang menarasikan, karena penduduk Kepulauan Seribu juga tidak mewarisi cerita itu.

  • Whatsapp