Pak De, Berjasa Sampah yang Tak Ada Artinya – Part 1

  • Whatsapp

BPS.id – Namanya Terimo, yang kenal biasa memanggilnya Pak De, usianya sudah melebihi setengah abad, tapi hidupnya masih tampak penuh semangat. Sekitar 21 tahun lalu, dia datang ke Pulau Seribu. Mengandalkan tenaga mengadu nasib di Pulau Pramuka. 

Baik, agar lebih enak kita panggil saja dia dengan sebutan Pak De. Dia bukan siapa-siapa atau miliki apa-apa, dia hanya orang biasa yang hidupnya sangat sederhana. 

Tubuhnya agak kecil, dengan kulit berwarna coklat gelap. Meski masuk usia rentah, Pak De masih enak diajak bicara. Tata bahasanya sangat terjaga, seperti kebanyakan orang Surakarta (Solo), Jawa Tengah.

Menarik kisah hidupnya, Pak De tak lepas dari sampah. Beberapa kali diajukan sebagai penerima Kalpataru, tapi ah itu hanya janji palsu dan kisah yang telah berlalu.

Pak De kini tengah gulana, memikirkan lanjut nasibnya. Ya, puluhan tahun katanya berjasa membantu Pulau Pramuka dari kotornya sampah. Kini dia dan keluarganya entah akan kemana, kalau empunya tanah memintanya untuk pindah.

Memang gubuk reot miliknya numpang di tanah warga. Kapan saja dia bisa terusir, hanya tinggal menunggu waktunya. Kapan saja. Ya, kapan saja dia harus terimah, toh dia hanya numpang berteduh di lahan bertuan.

Aneh ini aneh, dan malang nian nasibnya. Hari masih senja terasa gelap gulita baginya. Jangankan sebidang tanah, sejengkal saja dia tak punya. Padahal, dengan keringat di tubuh kurusnya, dia banting tulang menimbun sampah. 

Lahan sisi dalam tanggul jalan lingkar Pulau Pramuka tak jauh dari lapangan sepak bola adalah bukti nyata dari apa yang dikerjakannya. “Janji tinggal janji, sekarang saya tidak dapat apa-apa,” ungkap lirih Pak De saat diminta berkisah.

Bermula, Pak De mengisah soal sampah, sejak tak lagi kerja dia banting stir sebagai pengais sampah. Tiap rumah didatanginya mengambil sampah warga. Berharap sedikit rupiah dari warga yang baik hati kepadanya.

“Berapa saja saya terima, kadang tiap hari dikasih, dan ada juga yang bulanan ngasihnya,” ucap Pak De mulai berbagi kisah. “Pokoknya, kalau soal sampah, warga tahunya saya,” sambungnya.

Kisah Pak De belum berhenti, nantikan kisah selanjutnya di bagian ke 2.

 

  • Whatsapp