Soal Jembatan Tanggul, Nelayan Curhat ke Dekab

  • Whatsapp

BPS.id – Polemik jembatan tanggul proyek betonisasi yang dikerjakan PT Jaya Beton Indonesia (JBI) – sebelum disebut PT Jaya Benton – berlokasi di RW 03 Kelurahan Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu Utara, Kepulauan Seribu menemui babak baru.

Nelayan sebelumnya protes dengan kontruksi jembatan yang kurang tinggi dan tidak dapat dilintasi kapal kini berpindah haluan. Mereka menuntut opsi lain yakni agar pihak Sudin Sumber Daya Air Kepulauan Seribu empunya kegiatan segera membangun dermaga darurat dan akses jalan (jembatan orang) dari bibir pantai ke tanggul benton.

“Yang sudah, ya udalah, walau bagaimana pun kapal nelayan tidak bakal bisa masuk. Yang penting sekarang ada dermaga darurat dan akses jalan bagi nelayan dari daratan ke tanggul,” ungkap Halimi (65), seorang nelayan dan juga tokoh masyarakat Pulau Kelapa saat bermusyawarah dengan perangkat RW dan RT setempat di Kantor Sekretariat RW 03 Kelurahan Pulau Kelapa, Kamis (28/11/2019) malam.

Baca lagi : Lagi, Proyek Betonisasi Dikeluhkan Warga

Musyawarah warga  dipimpin oleh Dewan Kabupaten (Dekab) Kepulauan Seribu Muhammad Jufri. Kepada Dekab, nelayan menegaskan agar tuntutan mereka segera disampaikan kepada pihak terkait. Pasalnya, bila tidak ada respon nelayan mengancam akan melakukan aksi lain. “Soal jembatan kita sudah mau terima, tapi bila opsi dermaga darurat dan akses jalan juga tidak diakomidir, jangan salahkan kami melakukan aksi lain,” tegas Halimi yang biasa disapa Pak Le ini.

Dewan Kabupaten Kepulauan Seribu, Muhammad Jufri berjanji akan segera menindaklanjuti hasil kesepakatan dalam musyawarah itu. Dia akan langsung menyampaikan aspirasi nelayan ke Sudin SDA Kepulauan Seribu. “Polemik ini harus segera ditemukan titik terangnya. Masalah nelayan juga masalah kita bersama dan itu menjadi concern program kami,” kata Jufri usai musyawarah.

Jufri berharap, agar warga tetap cooling down dan bersabar. Pasalnya, apa yang menjadi keinginan warga tersebut sebelumnya sudah diketahui oleh pihak Sudin SDA. “Pak Mustajab – Kasudin SDA Kepulauan Seribu – sudah mengetahui masalah ini. Sekarang kita tunggu responnya. Saya minta nelayan tetap bersabar, pasti ada jalan keluar terbaik,” kata Jufri.

Terkait dengan ancaman nelayan, Jufri meyakini hal itu hanya ungkapan emosional nelayan semata. Dia yang juga penduduk asli Pulau Kelapa sangat mengenal watak dan kebiasaan masyarakat Pulau Kelapa. “Mereka orang tua saya, kadang memang sikap tegas warga perlu ditunjukkan asal masih dalam batas-batas kearifan kita,” paparnya.

Namun begitu, Dewan Kabupaten yang baru menjabat kurang lebih lima bulan ini mengaku akan selalu beridiri diposisi kepentingan masyarakat banyak dan berupaya melaksanakan tugas kedewanan sebaik mungkin. “Esensinya sudah jelas, kami adalah aspirator masyarakat, kepentingan mereka adalah amanah buat kami. Jadi kapan saja tenaga dan pikiran kami dapat dimanfaatkan oleh masyarakat,” tutupnya.