Menunggu Gebrakan Wisata Pulau Kelapa

  • Whatsapp

BPS.id – Tiap pulau di gugusan Kepulauan Seribu pasti memiliki potensi wisata, tak terkecuali Pulau Kelapa di Kepulauan Seribu Utara, Kepulauan Seribu. Ya, pulau permukiman yang didiami sekitar 6 ribu jiwa ini tak mau ketinggalan beraksi dalam trend wisata permukiman di wilayah Jakarta Kepulauan ini.

Sejatinya, Pulau Kelapa sudah teramat dikenal oleh kalangan wisatawan asing saat booming wisata manca medio 1990 lalu. Dari pulau ini banyak talenta wisata berkarir di pulau-pulau resort. Seperti, Pulau Matahari, Pulau Putri, Pulau Genteng, Pulau Bira, dan Pulau Pantara.

Dan pulau – Pantara – terakhir disebut sempat menjadi pulau wisata kelas dunia bahkan ketenarannya melebihi pulau dewata – Bali -, kala itu. Ribuan wisman asal mancanegara utamanya dari negeri matahari terbit – Jepang – tak jarang menyesaki pulau itu tiap akhir pekannya.

Kerja sama dengan maskapai penerbangan asal Jepang,  Japan Air Lines (JAL) menajamen pulau yang identik dengan logo Pulau Seribu ini menjadi buah bibir pariwisata nasional dan internasional. Darinya, mulailah ekspansi pariwisata bemunculan semisal Pembangunan Pulau Matahari, Pulau Bira, dan pulau-pulau lainnya.

Ah, tapi itu dulu. Sekarang memang masih ada geliatnya namun tak sama dan tak seindah dulu. Apakah sejarah bakal terulang ?, sepantasnya ditunggu sambil menggu gebrakan baru yang mau dan akan dilakukan di Pulau Kelapa.

“Itu kenangan indah kita dan nyata. Sudah saatnya bergeser pada realita, sekarang kita – Pulau Kelapa – mau jadi wisata apa,” ujar Sabeni di dermaga utama Pulau Kelapa saat berbincang dengan sejawatnya.

“Kalau dulu bisa, sekarang pasti juga bisa asal kita terus berusaha. Toh, Pula Tidung, Pari, Pramuka, dan Harapan bisa, kenapa kita tidak,” timpal Safaat, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kelurahan Pulau Kelapa, Kamis (28/11/2019) malam.

Sambil sesekali meneguk kopi hitam di gelas plastiknya, mereka ber-empat berpikir keras mencari formula wisata yang tepat untuk Pulau Kelapa. “Bagaimana kalau wisata kuliner, tapi konsepnya makanan laut segar. Kita libatkan nelayan untuk jual langsung hasil tangkapannya ke pengunjung wisata,” usul Jufri menyela berfikir rekannya.

“Bagus juga, tapi dimana tempatnya,” serga syarif yang sebelumnya hanya asik dengan kreteknya.

“Kita fokuskan aja lokasinya di pulau itu,” seraya menunjuk gugusan pulau kecil tidak jauh dari dermaga utama Pulau Kelapa. “Kalau dibenahi pasti bagus dan akan menjadi daya tarik wisata,” gagas Jufri yang adalah Dewan Kabupaten Kepulauan Seribu ini.

“Tapi,” sambung Safaat. “Harus banyak yang dibenahi, fasiltas wisata harus menunjang. Sanitasi, lokasi tempat makan, dan akses ke sananya bagaimana?,” tanya Safaat sambil mengelus dagunya.

Jufri sejenak berdiri, diluruskan badanya sambil sesekali melihat lalu lintas sepeda motor di jalan depan Gedung Kelurahan Pulau Kelapa yang tampak gagah berdiri dengan tiga lantainya.

“Semunya bisa kita lakukan, asal mau serius. Pak Lurah pasti mendukung, kan ini buat ekonomi masyarakat kita juga,” tutur Jufri seiring mengayunkan pinggangnya yang mungkin terasa pegal.

“Kita buat perencanaanya yang matang, segalah kebutuhan untuk daya dukungnya kita siapkan. Kita gandeng Sudin Parbud dan lainnya. Soal promosi kan kita bisa minta bantuan bang Furqon,” kata Jufri sambil menunjuk beritapulauseribu.id dengan cengir di bibirnya.

Safaat, Sabeni, dan Syarif ikut tertawa. “Sudah cukuplah, kalau kita mau jalan ya harus mulai. Jangan hanya wacana,” sambung Jufri.

Pembicaraan masih berlanjut, malam makin larut, susana sekitar yang kebetulan malam jumat terasa hangat. “Pertama kita namakan pulau itu Pulau Siput, lalu kita benahi dan penuhi fasilitasnya. Bang Furqon siapkan strategi promosinya, teman-temen lain ajak warga untuk terlibat. Kita targetkan tahun depan wisata kuliner seafood segar di Pulau Siput sudah menggemah,” papar Jupri dengan nada semangat.

Dari bincangan hangat itu terkuat asah. Ya, kian lama Pulau Kelapa tertinggal dengan pulau lainnya. Sementara warga pulau tetangga – Pulau Harapan – bergelimang rupiah dari wisata, Pulau Kelapa baru jadi penonton saja. Semangat sadar wisata dari segelintir orang ini patutlah dijaga. Karena, saat ini pariwisata telah mulai bertahta sebagai salah satu solusi masalah raihan nafkah warga. 

Bravo Pulau Kelapa, ditunggu gebrakan wisatanya. Semoga bukan hanya wacana dan hanya pandai dengan hayalan dahulu kala yang memang sempat jaya. Sudah saatnya giat  nyata. DitungguSeafood Segar di Pulau Siput’. Ehem.

  • Whatsapp