Lagi, Proyek Betonisasi Dikeluhkan Warga

  • Whatsapp

BPS.id – Proyek betonisasi yang dilaksanakan PT Jaya Beton di sejumlah lokasi di Kepulauan Seribu tampaknya panen keluhan warga. Bahkan, proyek yang menelan pagu anggaran sebesar Rp 9,3 miliar milik Suku Dinas Sumber Daya Air Kepulauan Seribu tahun 2019 itu menimbulkan beberapa masalah baru.

Sebelumnya, keluhan warga terjadi pada proyek betonisasi di bagian selatan Pulau Tidung, Kepulauan Seribu Selatan yang dituding menjadi biang keladi merebaknya nyamuk. Lalu, keluhan penggiat pelestari lingkungan terhadap kerusakan karang akbiat proses pemindahan beton yang sembrono oleh pekerja proyek.

Baca lagi : Duh, Nyamuk Tanggul Resahkan Warga

Kali ini, proyek betonisasi kembali mengundang suara sumbang dari sejumlah nelayan warga RW 03 Kelurahan Pulau Kelapa, Kepulauan Seribu Utara. Warga mengeluhkan pembangunan jembatan akses masuk kapal nelayan yang dilihat dari tinggi badan jembatan, dipastikan tidak dapat dilintasi kapal saat air laut pasang.

Ketua RW 03 Kelurahan Pulau Kelapa, Sulaiman mengungkapkan, sejumlah warga yang adalah nelayan mengadukan masalah itu ke kelurahan. Mereka mengeluhkan masalah tinggi jembatan tersebut. Warga takut, saat air pasang kapal nelayan tidak dapat melintas karena terhalang badan jembatan.

“Nelayan mengeluh soal tinggi badan jembatan, kalau air pasang dipastikan kapal-kapal mereka tidak bisa masuk ke dalam kolam labuh di tempat biasa mereka menambatkan kapal,” ungkap Sulaiman kepada beritapulauseribu.id, Kamis (28/11/2019).

Sebenarnya, kata Sulaiman, difasilitasi kelurahan, masalah keluhan nelayan tersebut sudah dibicarakan dengan pihak Sudin SDA Kepulauan Seribu. Akan tetapi, proses pembangunan jembatan tetap dilanjutkan tanpa ada peninggian badan jembatan.

“Karena masih dalam proses pembangunan, kami meminta agar Sudin SDA mengkaji ulang tinggi jembatan. Sehingga kapal nelayan kedepannya tetap bisa melintas. Ini tuntutan nelayan, mohon diperhatikan,” tegas Sulaiman.

Baca lagi : Miris, Pembangunan Tanggul Rusak Terumbu Karang

Apa yang disampaikan Sulaiman tersebut diamini oleh Lurah Pulau Kelapa, Madi M Dali. Bahkan, selain peninggian badan jembatan, dirinya juga mengusulkan agar pihak SDA Kepulauan Seribu membangun jembatan penghubung dari bibir pantai ke beton yang dibangun.

“Solusinya harus ditinggikan, memang ada solusi lain seperti membuatkan jembatan penghubung untuk akses jalan bagi nelayan agar mereka tidak harus memutar jauh saat akan melabuhkan kapalnya,” papar lurah.

Kepala Sudin SDA Kepulauan Seribu, Mustajab mengaku, bahwa pihaknya telah melakukan pertemuan dengan pihak pemangku kepentingan wilayah setempat. Pada dasarnya, menurut dia, terkait pembangunan jembatan sudah ada kesepakatan tinggi dan lebarnya.

“Kami mengadakan pertemuan dengan Pak RW, LMK, dan Pak Lurah. Pada dasarnya, jembatan sudah ada kesepakatan tinggi dan lebarnya. Bila air laut surut kapal nelayan tidak bisa masuk, karena kandas maka perlu ada pendalaman alur ,” katanya.

Tentang jembatan penghubung yang juga diusulkan untuk mengantisapasi kapal nelayan tidak bisa masuk ke kolam labuh, Mustajab belum dapat menjawab. Dia beralasan sedang berdiskusi dengan Bupati Kepulauan Seribu Husein Murad terkait rencana monitoring proyek pembangunan Instalasi Pengolaan Air Limbah (IPAL) di Pulau Harapan.

“Maaf, saya masih sama bupati, Insya Allah jam 14.00 kami akan ke Pulau Harapan untuk mengecek pembangunan IPAL,” tulis Mustajab singkat melalui aplikasi berbagi pesan.