Reses, M Idris Adakan Kapal Jenasah dan Segera Sediakan Lahan untuk Pemakaman

  • Whatsapp

KEPULAUAN SERIBU- Muhammad Idris, anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta, memanfaatkan masa reses sepanjang pekan lalu dengan menyambangi konstituennya di sejumlah pulau permukiman di Kepulauan Seribu untuk menyerap aspirasi masyarakat.

Kunjungan dimulai di Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, dengan menyambangi Pulau Untung Jawa, Pulau Lancang dan Pulau Tidung. Dilanjutkan ke Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, dengan mendarat di Pulau Kelapa, Pulau Paggang dan Pulau Harapan

Sebagai putra asli Kepulauan Seribu, politisi Partai Nasdem itu tak kesulitan berkomunikasi dengan konstituennya. Di Kepulauan Seribu, beda pulau beda dialek dan bahasa. Muhammad Idris, anak Kepulauan Seribu pertama yang duduk di kursi DPRD DKI Jakarta, terbiasa dengan situasi itu.

Kepulauan Seribu adalah wilayah DKI Jakarta di Teluk Jakarta, yang terdiri dari 110 pulau dan 11 pulau adalah pulau permukiman yang didiami hampir 27 ribu jiwa. Terdiri dari enam kelurahan di dua kecamatan. Setiap pulau permukiman punya masalah sendiri, yang relatif berbeda dengan lainnya.

Idris, sapaan akrab Muhammad Idris, mengawali kunjungan di Pulau Untung Jawa. Ia disambut warga yang memadati Taman Arsa, untuk mendengar keluhan masyarakat dan meresponnya.

“Yang mendesak saat ini adalah pengadaan kapal jenasah,” kata Rohmat, warga Pulau Untung Jawa berusia 40 tahun.

Berbeda dengan Rohmat, Salim mengusulkan penambahan Penyedia Jasa Lainnya Perorangan (PJLP), agar lebih banyak warga mendapat kerja.

Di Pulau Lancang, masih di Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, Muhammad Idris mendengar lebih banyak keluhan; mulai dari kebutuhan instalasi pengolahan air limbah (IPAL), lahan permukiman yang kian menyempit, sarana olahraga, perbaikan doking, pembuatan alur masuk, dan pembangunan pelabuhan sisi utara pulau.

Sunaeni, anggota Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM), mengatakan IPAL adalah persoalan paling mendesak. Masyarakat, katanya, beberapa kali mengusulkan ke Pemkab Kepulauan Seribu tapi tidak ada tindak lanjut.

“Kami terganggu dengan bau busuk. Mohon Pak Dewan menegur Pemkab,” ujar Sunaeni.

Di Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, tepatnya di Pulau Kelapa, Muhammad Idris relatif menghadapi keluhan serupa seperti di Pulau Untung Jawa, yaitu kapal jenasah dan penambahan PJLP. Sedangkan yang paling menonjol di pulau ini, masyarakat mengeluhkan soal ketersedian lahan pemukiman dan lahan pemakaman, air bersih, dan rehabilitasi dermaga pantai utara (pantura) menjadi lokasi wisata.

Di Pulau Panggang, politisi yang juga dikenal sebagai pengusaha sukses, menghadapi masyarakat yang membunyikan alarm bahaya narkoba, ketersediaan air bersih, pembangunan jembatan penyeberangan orang yang menghubungkan Pulau Panggang dan Pulau Karya, serta, pembentukan sasana budaya dan kolam labuh bagi nelayan.

Sementara di Pulau Harapan, Idris diminta mendukung pembangunan ikon wisata baru di Kepulauan Seribu, yakni Masjid Apung. “Bila di Kepulauan Seribu Selatan ada ikon wisata Jembatan Cinta, kami sangat berharap di utara ada ikon wisata Masjid Apung di Pulau Harapan,” harap H. Rojali.

Selain Masjid Apung, masyarakat juga mengusulkan lahan permukiman dengan melakukan restorasi pantai sisi timur pulau. Nantinya masyrakat dapat menyicil kepada pemerintah dengan memanfaatkan program gubernur DP 0 persen.

Masalah Bersama

Saat berbicara di depan masyarakat Pulau Kelapa, Muahammad Idris mengatakan ada masalah bersama yang dihadapi masyarakat Kepulauan Seribu. “Kebutuhan kapal jenasah itu masalah kita bersama,” kata Muhammad Idris. “Itu mimpi lama masyarakat Kepulauan Seribu.”

Tahun ini, lanjut Muhammad Idris, mimpi itu terealisasi. Bupati Kepulauan Seribu Husen Murad menyatakan bersedia memberikan satu unit kapal dinasnya untuk diubah menjadi kapal jenasah.

“Sambil menunggu pengadaan kapal jenasah oleh pemerintah. Warga yang membutuhkan silahkan berkoordinasi dengan camat dan lurah,” ujar Idris.

Masalah bersama lainnya adalah pengadaan lahan pemakaman. Saat ini belum semua pulau permukiman memiliki tempat pemakaman umum (TPU). Semisal Pulau Kelapa, pembebasan lahan pemakaman bahkan menciptakan polemik antar ahli waris lahan dengan masyarakat.

“Soal ini, saya sudah bicara keras di DPRD DKI Jakarta,” kata Idris dengan muka serius. “Pengadaan lahan pemakaman harus menjadi prioritas. Yang penting, mekanisme pembebasan lahan sesuai aturan.”

Berbicara di depan masyarakat dan Bupati Kepulauan Seribu, Idris juga dengan tegas mengatakan; “Harapan saya masalah lahan pemakaman terrealisasi secepat mungkin agar tidak terjadi keresahan di masyarakat dan menimbulkan dampak negatif.”

Kepada Bupati Husen Murad, Idris mendesak Pemkab Kepulauan Seribu membuat skala prioritas atas masalah-masalah yang disampaikan warga, dan ditindak lanjuti. Ia juga berjanji akan berbicara lebih keras di DPRD, agar aspirasi masyarakat Kepulauan Seribu berkenaan dengan masalah prioritas dan mendesak yakni kapal jenazah, lahan pemukiman, air bersih, dan Lahan Pemakaman menjadi perhatian lebih.

Menanggapi keluhan masyarakat yang disampaikan ke anggota Komisi D DPRD DKI Jakarta, Bupati Husen Murad menilai semua persoalan yang disampaikan masyarakat akan menjadi bahan evaluasi dalam program pembangunan Kepulauan Seribu.

“Ini masukan positif untuk Pemkab Kepulauan Seribu,” katanya. “Saya senang warga asli duduk di DPRD DKI Jakarta, sehingga pembangunan terfokus pada kepentingan masyarakat yang mendesak.”

Khusus di Pulau Panggang, yang menjadikan bahaya narkoba sebagai isu utama, Idris berjanji akan berkoordinasi dengan bupati, kapolres, Badan Narkoba Nasional (BNN), dan instansi terkait lainnya.

  • Whatsapp