Masjid Apung dan Reklamasi Pantai Catatan Penting Reses M. Idris di Pulau Harapan

  • Whatsapp

PULAU HARAPAN – Sebegai salah satu pulau tujuan wisata permukiman di Kepulauan Seribu, Kelurahan Pulau Harapan, Kepulauan Seribu Utara sudah saatnya memiliki lokasi wisata andalan. Lokasi andalan itu dlengkapi dengan ikon sebagai daya tarik wisata seperti halnya ikon wisata Jembatan Cinta di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu Selatan.

“Bila di Kepulauan Seribu Selatan ada ikon wista Jembatan Cinta, di Kepulauan Seribu Utara juga harus ada ikonnya. Kami sangat berharap ikon wisata itu berupa bangunan Masjid Apung,” ujar H. Rojali, Tokoh Agama Pulau Harapan, pada kegiatan Penyerapan Aspirasi Masyarakat (Reses) Anggota DPRD DKI Jakarta, Muhammad Idris, SE di Pulau Harapan, Jumat (15/11/2019) malam.

Menurut dia, alasan pemilihan masjid apung sebagai ikon wisata didasari oleh semangat masyarakat Pulau Harapan yang selama ini masih memegang teguh dasar dan norma agama. Selain itu, Pulau Harapan sering dikunjungi lembaga keagamaan, seperti MUI, Muhammadiyah, NU dan bahkan dari pesantren-pesantren se Indonesia.

Selain pembangunan masjid apung sebagai ikon wisata baru di Kepulauan Seribu, pada kegiatan reses itu, masyarakat yang hadir juga mengutarakan sejumlah permasalahan. Seperti antara lain, masalah lahan pemukiman yang makin menipis di Pulau Harapan. “Di sini semakin padat, kita ingin ada penambahan lahan untuk mengurangi kepadatan penduduk,” pinta Agus Muntako, warga lainnya.

Memperhatikan aspirasi masyarakat Pulau harapan, Muhammad Idris mengaku bahwa dari pembahasan, ada hal yang menarik dan menjadi catatan penting yang harus dia perjuangkan sebagai anggota DPRD dari Daerah Pemilihan Pulau Seribu, Celincing, Koja dan Kelapa Gading.

“Usulan dibangunnya ikon wisata Masjid Apung sangat menarik. Saya jadikan catatan penting agar ini bisa didorong menjadi program prioritas di Kepulauan Seribu,” ujar M. Idris.

Menyikapi lahan permukiman, idris mengatakan, sudah saatnya pemerintah kelurahan setempat mencari alternatif perluasan wilayah untuk mengatisipasi kepadatan penduduk yang akan pasti terjadi lima atau sepuluh tahun mendatang di Pulau Harapan. Karena itu, dia memberi solusi agar dilakukan restorasi perairan dangkal bagian timur pulau.

“Bagian timur Pulau Harapan memiliki perairan dangkal yang luas. Bila memungkinkan direstorasi mengapa tidak. Kebutuhan lahan permukiman sudah saatnya direncanakan,” jelas anggota dewan yang asli putra Pulau Seribu ini.