Nasib Kapal Endeh dan Pembunuhan Serdadu Belanda di Pulau Kelapa

  • Whatsapp

beritapulauseribu – Ada episode berdarah yang mewarnai hari-hari pertama pendaratan Jepang di Tanjung Priok, yaitu penenggelaman Endeh (HMV-18) — kapal penyapu ranjau Hindia-Belanda di Kepulauan Seribu.

Maret 1942 bagi Hindia-Belanda adalah masa paling kritis. Setelah kekalahan sekutu dalam Pertempuran Laut Jawa, 27 Februari 1942, Jepang tanpa kesulitan menuju Batavia.

Pada 2 Maret 1942, Endeh (HMV-18 yang sedang berada di Tanjung Priok bergegas melarikan diri. Tujuannya pantai Australia.

Naas bagi Kapten P Rouwenhorst. Di kejauhan ia melihat dua kapal perusak Jepang; Matsukaze dan Shiozake, mengejar. Pertempuran tak terhindarkan.

Tujuh serdadu Hindia-Belanda tewas dalam baku tembak. Endeh tenggelam oleh tembakan meriam bertubi-tubi.

Sebanyak 17 awak kapal selamat, dan mendayung sekuat tenaga untuk mencapai salah satu pulau di Kepulauan Seribu pada 13 Maret 1942. Mereka meminta pertolongan nelayan untuk mendapatkan makanan.

Nelayan menyarankan mereka menuju Pulau Kelapa, dan meminta bantuan makanan kepada penduduk. Tanpa berpikir dua kali beberapa empat 17 orang itu menuju Pulau Kelapa.

Mereka adalah Letnan Dirk Pieter Cornelis, Letda Jan Arnoldus Menno, Pelaut Christian Ferdinand Loeffen, dan Pelaut August Adelbert Wilhelm Pesch.

Setiba di Pulau Kelapa, keempatnya disambut penduduk yang marah. Keempatnya terbunuh.

Mereka yang terdampar di salah satu pulau kosong di Kepulauan Seribu memutuskan melanjutkan perjalanan ke perairan lain untuk mencari makanan.

Dipimpin Kapten Rouwenhorst, mereka mencapai Krawang pada 23 Maret 1942 dan ditangkap pasukan Jepang keesokan hari. (Teguh Setiawan)