Pulau Onrust Dalam Catatan Prajurit Belanda

  • Whatsapp

Setelah semua yang terjadi sejak abad ke-17 sampai pertengahan abad ke-20, Pulau Onrust berutang julukan Pulau Iblis Belanda.

Suatu hari di tahun 1949, sebelum Konferensi Meja Bundar (KMB) dan Belanda harus angkat kaki dari tanah jajahannya, Dick Schaap — prajurit wajib militer dengan bakat wartawan — membawa rekannya berwisata ke Pulau Onrust. Dia menemukan dua batu nisan yang lapuk dan meriam abad ke-17.

Schaap berkeliling pulau ketika rekan-rekannya asyik menikmati keindahan pantai, atau mencari ikan. “Tidak ada lagi budak, pekerja paksa, dan para pengrajin kayu yang mendempul badan kapal,” tulis Schaap dalam buku Onrust: het Nederlandse duivelseiland (Onrust: Pulau Iblis Belanda).

VOC, tulis Schaap, mengawali kejayaan dari pulau seluas sembilan hektar ini. Ketika VOC tiba, Onrust adalah pulau berhutan lebat. Pohon-pohon kayu dengan diameter besar menjulang tinggi.

Pelaut Belanda yang bekerja di kapal VOC melihat Onrust sebagai penyedia kayu bagi kapal-kapal yang rusak, atau membuat kapal baru. Tanpa perlu memohon restu ke penguasa lokal, VOC mendarat di pulau itu.

Schaap sama sekali tidak menyinggung mengapa orang Belanda menamakan pulau itu Onrust. Bahasa Belanda mengenal dua penulisan untuk Onrust, yaitu on rust dan onrust, dan keduanya memiliki arti berbeda.

Onrust artinya kegelisahan atau keresahan. Sedangkan on rust artinya istirahat. Onrust bukan berasal dari unrest, kata dalam Bahasa Inggris yang berarti kerusuhan.

Tidak ada penjelasan apakah kata onrust mengacu pada awak kapal VOC yang resah dan gelisah, setelah berlayar sekian lama. Jika onrust berarti kerusuhan, tidak pula ada penjelasan kerusuhan apa yang terjadi di pulau itu saat VOC kali pertama tiba.

Menurut Schaap, Onrust adalah satu-satunya pulau di Teluk Jakarta yang masih menyandang nama Belanda. Penduduk lokal, terutama warga Kepulauan Seribu, sempat menyebut Onrust sebagai Pulau Kapal.

Semula, pulau-pulau di sekelilingnya menggunakan nama-nama Belanda; De Kujper, Rotterdam, Amsterdam, Parmerent, Schiedam, Harlem, Alkmaar, Monnikendam, dan lainnya. Dalam peta pertengahan abad ke-18, nama Pulau Kapal tertera berdampingan dengan nama Onrust.

Belanda juga mencantumkan nama-nama lokal untuk semua pulau. Namun, setelah Belanda hengkang dari Hindia Belanda, Republik Indonesia mengganti semua nama Belanda untuk semua pulau, kecuali Onrust. Nama Pulau Kapal tidak digunakan dalam arsip resmi.

Onrust di masa VOC adalah pulau galangan kapal. Ratusan budak, pekerja paksa, dan orang-orang hukuman, bekerja di sini sebagai penggergaji kayu, dan tukang dempul. Jika ada budak atau pekerja paksa meninggal, mayat akan dibawa ke Onrust Kerkhof, atau Pulau Kelor — yang berfungsi sebagai pemakaman.

Jelang kebangkrutan VOC, aktivitas galangan kapal Onrust meredup. Akibat kehilangan pepohonan sebagai bahan baku kapal, Onrust kalah bersaing dengan galangan kapal di Surabaya.

Di era Hindia-Belanda, Onrust benar-benar berubah fungsi. Pulau dengan banyak peninggalan VOC itu menjadi pulau orang buangan. Di sini, orang-orang yang diasingkan dan dibuang; terdiri dari para penjahat dan tokoh perlawanan lokal, menghabiskan hari-harinya.

Onrust seharusnya punya arti lain, yaitu perusuh. Sebab, sampai pertengahan abad ke-10, Onrust menjalankan fungsi seperti itu. Di sini pula para pemberontak Zeven Pronvincen menghabiskan hari hari di penjara.

Hari-hari setelah Nazi memulai perang di Eropa, pemerintah Hindia-Belanda menjadikan Onrust sebagai tempat pembuangan anggota Nationaal-Socialistische Beweging (NSB) atau simpatisan Yahudi. Mereka terdiri dari orang Jerman, Belanda, Hongaria, Cek, Slovak, dan negara-negara yang bekerjasama dengan Adolf Hitler.

Setelah Hindia-Belanda jatuh, Jepang menggunakan pulau ini untuk membuang tahana kulit putih. Terakhir, serdadu Jepang yang kalah perang menunggu di pulau ini sebelum diangkut sekutu sebagai tawanan perang.

Onrust sempat menjadi pembuangan orang pengidap kusta, dan sempat pula menjadi tempat karantina haji. Ada rumah sakit di pulau itu, tapi Onrust tetap menyandang nama buruk.

Menurut Schaap, Onrust seharusnya menyandang nama Pulau Iblis Belanda. Sebab, Onrust bukan sekadar tempat orang gelisah, resah, dan tempat pembuangan para perusuh. Onrust juga pulau kematian bagi banyak tahanan. (Teguh Setiawan)

  • Whatsapp