Orang Pulo, Jaring Muroami, dan Intel Jepang

  • Whatsapp

Tahun 1925 penduduk Kepulauan Seribu kedatangan sekelompok nelayan Kepulauan Ryukyu, Okinawa, Jepang, di bawah pimpinan Turia. Orang Pulo menyambut dengan tangan terbuka, dan bersedia menjadi buruh kongsi penangkapan ikan asal Jepang itu.

Pemerintah Hindia-Belanda mengamati interaksi itu. Kontrolir, pejabat yang mengawasi Kepulauan Seribu, secara berkala mengunjungi Kepulauan Seribu untuk melihat langsung interkasi orang Jepang dan masyarakat di pulau-pulau pemukiman.

Orang Pulo menangkap ikan dengan cara tradisional. Orang Jepang punya teknologi penangkapan yang lebih maju, namanya Jaring Muroami.

Semula, orang Jepang dilarang mengajarkan cara membuat jaring muroami dan teknik penangkapan kepada Orang Pulo. Seiring waktu, dengan kian dekatnya hubungan nelayan Jepang dan Orang Pulo, alih teknologi itu tak terhindarkan.

Nelayan-nelayan Jepang diam-diam mengajarkan Orang Pulo membuat jaring muroami dan teknik menangkapnya. Orang Pulo lebih suka menyebut jaring Jepang untuk muroami.

Setelah nelayan Kepulauan Ryukyu pergi, Orang Pulo mengeksploitasi sekujur perairan Kepulauan Seribu dengan jaring muroami. Akibatnya, ketersediaan ikan di Kepulauan Seribu terancam.

Jaring muroami didakwa meraup semua ikan. Nelayan mengambil semua ikan yang masuk ke dalam jaring. Jaring muroami menjadi alat tangkap ikan yang menghidupi perekonomian Orang Pulo, sekaligus mengancam populasi berbagai jenis ikan.

Tidak diketahui berapa lama nelayan Kepulauan Ryukyu berada di Kepulauan Seribu. Yang pasti, mereka membangun sebuah pos di Pulau Panggang. Dari pos inilah nelayan Jepang tidak sekadar menangkap ikan tapi memetakan Kepulauan Seribu, pulau-pulau yang dekat dengan Teluk Jakarta, dan penduduknya.

Belakangan diketahui nelayan-nelayan Jepang itu adalah intel Angkatan Laut (AL) Jepang, yang bertugas mengumpulkan semua informasi geografis perairan Batavia dan pertahanannya.

Tahun 1942, saat menyerbu Hindia-Belanda, Angkatan Laut Jepang menjadikan Pulau Panggang sebagai pangkalan. Ada pos pegamatan, dengan menara kayu menghadapi sebelah timur Pulau Panggang.

Generasi tua Pulau Panggang mengatakan Jepang membangun semacam bunker di sebelah timur pulau. Dari Kepulauan Seribu AL Jepang menyeran Batavia setelah melumpuhkan pertahanan udara KNIL di Pulau Onrust.

Batavia jatuh ke tangan Jepang pada 5 Agustus 1942. Tiga hari kemudian ibu kota Hindia-Belanda itu berganti nama menjadi Jakaruta Tokubetsu Shi, atau Kotapraja Jakarta.

Kali ini tidak ada lagi keramahan Jepang seperti yang diperlihatkan nelayan Kepulauan Ryukyu ketika tiba dan bermukim di Kepulauan Seribu. Orang Pulo menghadapi tentara Jepang yang fasis; menggunakan kekeraan untuk menuntut hormat.

Cerita tutur Orang Pulo menyebutkan tentara Jepang mencari perempuan untuk melampiaskan nafsu seks. Bek (Lurah) Dahlan, salah satu lurah di Kepulauan Seribu, menyembunyikan seluruh wanita saat tentara Jepang datang.

Puncak penderitaan Orang Pulo saat penjajahan Jepang terjadi tahun 1944, ketika terjadi eksodus massal penduduk di semua pulau permukiman ke pantai-pantai di Tangerang. Saat itu jaring muroami tidak lagi menghidupi perekonomian Orang Pulo. Mereka mendapatkan banyak ikan tapi tak laku dijual dan bangan makanan lainnya sulit diperoleh.

Kini, entah bagaimana cara Orang Pulo mengenang Jepang. (Teguh Setiawan)

  • Whatsapp