Sahlan Muntako : LBKM Manusiakan Keluarga Pasien

  • Whatsapp

Lima tahun lalu jika menyambangi RSUD Cengkareng di Jakarta Barat dan RSUD Koja di Jakarta Utara, Anda tertegun menyaksikan beberapa orang sering dalam jumlah banyak tertidur di teras dan lantai dingin tidak jauh dari ruang rawat inap. Mereka adalah keluarga pasien rawat inap yang datang dari Kepulauan Seribu. Mereka menemani anggota keluarga yang sakit sejak hari perawatan sampai pihak rumah sakit merekomendasikan untuk pulang.

Mereka tidak mungkin menginap di hotel terdekat dari RSUD Cengkareng dan RSUD Koja, yang relatif mahal untuk kapasitas kocek mereka. Banyak dari mereka tidak memiliki keluarga atau kerabat dekat di darat (Jakarta – red), yang membuat mereka terpaksa ‘menggelandang’ di rumah sakit berhari-hari. Hanya sedikit yang memiliki keluarga di darat, atau memiliki kemampuan finansial untuk menyewa kamar hotel.

Kini, jika mengunjungi RSUD Cengkareng dan RSUD Koja, Anda tidak akan lagi menemui masyarakat Kepulauan Seribu tertidur pulas di teras rumah sakit, atau terkapar di lantai dingin beralas tikar. Sejak 2014 sebuah rumah singgah, khusus untuk menampung masyarakat Kepulauan Seribu yang menunggu keluarga yang sakit, hadir di sekitar RSUD Cengkareng dan disusul tahun 2018 rumah singgah hadir RSUD Koja.

Menariknya, fasilitas itu tidak muncul dari benak birokrat, tapi dari kepala seorang tokoh masyarakat yang tergerak meringankan penderitaan tahunan warga Kepulauan Seribu. Tokoh itu bernama Sahlan Muntako. Dia mendirikan Lembaga Bantuan Kesehatan Masyarakat (LBKM) Kepulauan Seribu, mengetuk nurani masyarakat untuk saling membantu, dan tak lelah menggedor kesadaran Pemkab Kepulauan Seribu. Berikut wawancara Ketua sekaligus Pendiri LBKM Kepulauan Seribu, Sahlan Muntako kepada Portal Berita Independen di Kepulauan Seribu www.beritapulauseribu.id

LBKM Kepulauan Seribu kini makin dikenal. Bisa Anda ceritakan apa yang melatari gagasan pendirian lembaga ini?

Dulu, setiap kali ke RSUD Koja dan RSUD Cengkareng, saya menemukan warga Kepulauan Seribu – yang menunggu anggota keluarga yang menjalani rawat inap – tidur di teras rumah sakit. Saya mencari tahu mengapa mereka rela melakukan itu. Ternyata, penyebabnya adalah, pertama, onkos transportasi yang mahal dan waktu tempuh yang tidak pendek. Mereka tidak mungkin sewa hotel, karena bukan orang kaya.

Kedua, tidak ada rumah singgah untuk mereka, yang membuat mereka berada di darat (Jakarta – red) berhari-hati, bisa setiap hari menengok anggota keluarga yang sakit, sampai keluarga tercinta sehat dan kembali ke rumah.

Hati saya terketuk untuk meringankan beban mereka, dengan mendirikan rumah singgah. Sesuatu yang tidak mudah, karena harus ada organisasi yang menghimpun banyak sumber daya, agar rumah singgah bisa terwujud.

Apa langkah awal untuk mewujudkan gagasan ini?

Saya mendirikan organisasi bernama Lembaga Bantuan Kesehatan Masyarakat (LBKM) Kepulauan Seribu. Caranya, saya sosialisasikan gagasan saya tentang pentingnya pendirian lembaga ini.

Pertama, makin banyak masyarakat Kepulauan Seribu berobat ke rumah sakit di Jakarta. Kedua, banyak masyarakat Kepulauan Seribu yang menjadi pasien rawat jalan – atau kontrol kesehatan pasca rawat inap – kesulitan jika harus berlayar dari dan ke Jakarta. Ketiga, makin banyak warga Kepulauan Seribu, yang menemani anggota keluarga yang menjalani rawat inap, harus tidur di teras dan emperan rumah sakit.

Situasi yang memprihatinkan, tapi bertahun-tahun luput dari perhatian pemerintah. Saya sampai gagasan saya ke banyak teman dan tokoh masyarakat. Saya buat surat edaran ke masyarakat Kepulauan Seribu Selatan. Dalam surat edaran, saya paparkan secara rinci seluruh program kerja LBKM. Alhamdulillah, 90 persen masyarakat Kepulauan Seribu Selatan dan Pulau Harapan mendukung.

Dukungan berupa apa? Apakah hanya dukungan moril?

Tidak. Masyarakat menyisihkan sebaian rezeki untuk modal awal LBKM. Seluruhnya terkumpul Rp 36.360.300. Itulah yang kami gunakan untuk membuat akta notaris, perijinan, dan menyewa bangunan untuk rumah singgah.

Kapan LBKM resmi berdiri? Apa yang kali pertama Anda lakukan setelah lembaga ini berdiri?

Sesuai akte notaris, LBKM berdiri 21 Agustus 2014. Saya sosialisasikan pendirian LBKM ke Pemerintah Kabupaten Kepulauan Seribu, Sudin Kesehatan, Sudin Sosial, seluruh Puskesmas di sekujur Kepulauan Seribu, camat, lurah, ketua RW dan RT. Kami juga menghadap Bupati Kepulauan Seribu untuk memperkenalkan lembaga ini.

Kepada semua lapisan masyarakat dan pemerintah saya katakan LBKM telah terbentuk dan memiliki rumah singgah yang bisa dimanfaatkan masyarakat secara gratis.

Sebagai penggagas yang juga mewujudkan pendirian LBKM, Anda pasti mengalami tantangan yang tidak sedikit.

Yang namanya ingin berbuat baik, sudah pasti menghadapi tantangan. Karena jauh sebelum muncul gagasan ini saya membantu banyak masyarakat Kepulauan Seribu berobat ke darat, Alhamdulillah lebih banyak masyarakat yang mendukung dibanding yang menentang gagasan saya.

Tantangan tidak hanya datang dari segelintir masyarakat, tapi juga beberapa oknum yang tidak suka sepak terjang saya selama ini. Saya tidak hiraukan. Saya tetap berjalan dengan rencana saya.

LKBM, sebagai pengelola rumah singgah, perlu dana rutin. Selain dari masyarakat, dari mana Anda mendapatkan dana?

Swadaya masyarakat, bantuan donator perorangan dan perusahaan, serta bantuan dari Badan Amil Zakat infaq Sadaqah (Bazis) – saat ini – Badan Zakat Nasional (Baznas). Saya juga tak henti memohon bantuan kepada instansi terkait. Tahun 2015, Bazis membantu kami Rp 7 juta. Tahun 2016 dan 2017 masing-masing Rp 15 juta. Seluruhnya untuk biaya sewa bangunan yang menjadi rumah singgah.

Tahun 2018 barulah Pemkab Kepulauan Seribu menggelontorkan bantuan Rp 25 juta untuk penyewaan bangunan rumah singgah. Sementara kebutuhan operasional lainnya masih ditanggulangi oleh LBKM dan ditahun yang sama, Bazis juga memberikan Rp 25 juta untuk membantu operasional LBKM..

Dukungan antusiasme masyarakat akan hadirnya rumah singgah membuat LBKM percaya diri meluncurkan kupon donasi rumah singgah. Seluruh donasi masyarakat, donator perorangan dan perusahaan digunakan untuk rumah singgah.

Menurut Anda, apakah telah muncul kesadaran dari Pemkab Kepulauan Seribu akan pentingnya LBKM dan rumah singgah?

Menurut saya, kesadaran itu telah muncul. Tahun 2019, Pemkab Kepulauan Seribu tidak hanya menutupi biaya sewa untuk rumah singgah tapi juga membayar tagihan listrik dan air. Lainnya, mengangkat masing-masing dua petugas rumah singga di RSUD Koja dan RSUD Cengkareng sebagai Penyedia Jasa Lainnya Perorangan (PJLP) Kabupaten.

Selama empat tahun bangunan yang menjadi rumah singgah itu kan sewa, Anda melihat ada keinginan Pemkab Kepulauan Seribu untuk memiliki rumah singgah sendiri?

Maunya LBKM, kita punya rumah singgah sendiri. Nggak lagi sewa. Anggaran untuk perawatan, dan kebutuhan lain. Namun, saya belum melihat indikasi Pemkab Kepulauan Seribu punya rencana membangun rumah singgah sendiri, dan permanen.

Apakah target LBKM hanya menyediakan rumah singgah, atau ada target lain?

Dalam program kerja kami tertera; Pertama, LBKM hadir untuk membantu dan mendampingi pasien yang masuk IGD dan menjalani rawat inap di darat. Membantu masyarakat yang menghadapi kesulitan dengan birokrasi rumah sakit. Membantu masyarakat yang butuh keringanan biaya dan pengobatan gratis.

Kedua, menyediakan rumah singgah. Ketiga, menyediakan mobil antar-jemput keluarga pasien pelabuhan ke rumah sakit. Keempat, menyediakan mobil ambulan pasien. Kelima, menyediakan mobil ambulan jenasah.

Sejauh ini kami baru bisa menyediakan rumah singgah dan mobil antar-jemput keluarga pasien.

Anda yakin semua target kerja ini bisa tercapai?

Insha Allah kami akan mewujudkan semua itu. Masyarakat Kepulauan Seribu sangat membutuhkan semua itu dan terpenting kami ingin memanusiakan keluarga pasien yang berobat di rumah sakit yang ada di daratan Jakarta. (rep)

  • Whatsapp