Wahyu Hidayat : Orientasi Pembangunan belum Berpihak ke Masyarakat

  • Whatsapp

Pembangunan secara masif yang dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Seribu sejak berdiri 18 tahun lalu dinilai belum berpihak kepada kepentingan masyarakat. Pembangunan di wilayah termuda di Provinsi DKI Jakarta ini dinilai masih berorientasi pada pembangunan fisik dimana pola pembangunannya hanya sebagai bagian dari menjalankan agenda kegiatan saja.

Hal itu dituturkan Tokoh Pemuda Kepulauan Seribu Wahyu Hidayat. Berikut wawancara lengkap redaksi beritapulauseribu.id kepada yang bersangkutan pada Senin, 21 Oktober 2019.

Kepulauan Seribu hampir berusia 18 tahun, bagaimana anda melihat perkembangan Kepulauan Seribu saat ini ditinjau dari aspek pembangunannya ?

Banyak harapan dan keinginan dari kita sebagai pemangku kepentingan di Kepulauan Seribu. Bahwasannya kita harus lebih baik kedepannya. Evaluasi tentang keadaan Kepulauan Seribu sampai dengan saat ini, bila ditinjau dari aspek pembangunan sangat luar biasa bahkan saya bilang pembangunan yang terjadi di Kepulauan Seribu sangat overdosis. Karena banyak sekali pembangunan yang dilaksanakan menurut saya sasarannya bukan berorientasi pada kepentingan masyarakat tapi berorientasi pada bagaimana kegiatan itu berjalan.

Apa dasar anda berpendapat seperti itu ?

Ada sebagian pembangunan yang menurut saya sangat sangat tidak mengena, Contoh, Pulau Panjang yang sudah luar biasa besar anggaran yang dikeluarkan tapi manfaat bagi masyarakat tidak ada. Menurut saya harusnya anggaran besar itu bisa di alihkan ke pembangunan-pembangunan lainnya yang benar-benar dibutuhkan masyarakat.

Bukankah pembangunan dilakukan adalah upaya pembenahan wilayah agar lebih tertata ?


Ya benar, terkait itu kita masih mengapresiasi langkah-langkah yang dilakukan pemerintah daerah dan pemerintah Kabupaten dalam rangka mempercantik dan memperindah semua pulau-pulau yang sekarang faktanya di setiap pulau penduduk menjadi daerah berpotensi wisata.

Lalu apa yang salah ?

Tapi jangan lupa, pembangunan jangan menyampingkan kelestarian lingkungan. Karena pembangunan yang dilakukan tak jarang justru menabrak dan merusak ekosistem lingkungan itu sendiri. Banyak sekali baik di pulau-pulau pemukiman penduduk maupun di pulau-pulau resort yang sekarang luar biasa pembangunannya dan itu diduga luput dari pengawasan pemerintah daerah. Karena dampak kerusakan lingkungan yang disebabkan pembangunan saat ini, akan dirasakan oleh anak cucu kita nanti.

Itu dampak pembangunan, lalu bagaimana sebaiknya pembangunan dilakukan ?

Intinya begini, boleh saja membangun tetapi harus tetap menjaga kaidah-kaidah kelestarian alam dan yang terpenting harus juga berorientasi pada kepentingan mendesak untuk masyarakat. Misalnya, fasilitas pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan mendasar masyarakat lainnya. Membangun suatu wilayah bukan melulu dari segi infrastruktur. Yang tak kalah pentingnya pembangunan saat ini harus orientasikan pada pembangunan sumber daya masyarakat.

Maksudnya ?

Maksud saya, jangan sampai kita membangun pulau dengan sedemikian rupa dengan bangunan yang luar biasa, sementara sumber daya manusianya, sumber daya masyarakatnya di bawah rata-rata terutama pemudanya. Kabupaten harus membuka ruang dan merangkul semua anak muda, membina mereka dengan melaksanakan pelatihan-pelatihan. Itu untuk mendorong peningkatan keterampilan yang sifatnya teknis dan lainnya.

Jelasnya seperti apa ?

Pemkab harus membuka ruang selebar-selebarnya untuk eksistensi pemuda. Dukung dan berikan kesempatan mereka menjadi bagian dari perkembangan di Kepulauan Seribu baik sebagai wiraswasta, pengusaha atau berprofesi sebagai apa yang bisa mereka lakukan di Pulau Seribu.

Demikian wawancara redaksi dengan Wahyu Hidayat Tokoh Pemuda yang sekaligus politisi di Kepualaun Seribu. Dia menyampaikan selamat kepada Kabupaten Kepulauan Seribu yang pada 10 November 2019 nanti genap berusia 18 tahun. (red)

  • Whatsapp