Pulau Tidung, Pelabuhan Terakhir Sang Raja ke-13 Melawan Penjajah

  • Whatsapp

Sebelumnya, tak ada yang tahu bahwa makam di pojok barat pulau ini merupakan makam raja pemberani. Semua berubah hingga ada mahasiswi Jepang yang datang membawa pesan dari tanah Kalimantan.

Ini adalah kisah dari Pulau Tidung Besar, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Nama pulau ini berhubungan langsung dengan daerah asal Raja Pandita pemimpin Kerajaan Tidung, saat ini berlokasi di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Makam Sang Raja ada di pulau yang terkenal dengan pariwisatanya ini.

Saat detikcom mengunjungi pulau wisata ini dengan Teras BRI Kapal Bahtera Seva I, Kamis (21/2/2019), kami bertemu Muhammad Nafsir (61), keturunan sekaligus juru kunci makam Raja Pandita.

Dia menjelaskan, Raja Pandita bernama Aji Muhammad Sapu dengan nama kecil Kaca. Dia lahir di Malinau, 20 Juli 1817.

“Raja Pandita adalah orang yang paling keras terhadap Belanda,” kata Nafsir.

Tertulis jelas di prasasti pembangunan makam, ‘Di lokasi ini dibangun makam Raja Pandita, tokoh dan Raja Tidung dari Kabupaten Malinau, yang diasingkan pada tahun 1892 karena menentang penjajahan kolonial Belanda.’ Prasasti itu ditandatangani oleh Bupati Malinau dan Bupati Kepulauan Seribu. Karena sikap keras Raja Pandita, dia diasingkan Belanda dari rakyatnya.

Pulau Tidung, Pelabuhan Terakhir Sang Raja ke-13 Melawan PenjajahFoto: Makam Raja Tidung XIII, yakni Raja Pandita, di Pulau Tidung Besar. (Danu Damarjati/detikcom)

Cerita bermula dari perseteruan Kerajaan Tidung dan Kerajaan Bulungan yang sebenarnya masih berkerabat. Kerajaan Bulungan yang dipimpin Sultan Maulana Mohammad Kaharudin mengklaim telah menguasai Kerajaan Tidung dan berhak atas hasil penjualan komoditas hutan. Klaim Kerajaan Bulungan atas Kerajaan Tidung diteken pula oleh pemerintah kolonial Belanda, tahun 1878. Klaim ini dibuat sepihak tanpa melibatkan Raja Pandita.

Sang Raja Tidung XIII itu merasa tetap berdaulat. Karena merasa sudah tua, dia menyerahkan kekuasaannya ke cucunya bernama Sayid Abdurrahman/Syarif Panamban. Namun ternyata Sultan Bulungan tidak terima dengan penyerahan kekuasaan tanpa sepengetahuan dirinya. Sultan Bulungan merasa dirinya berhak atas politik dan pajak dari Kerajaan Tidung. Belanda bermain. Raja Pandita dipaksa meneken kesepakatan dan sumpah yang menguntungkan Sultan Bulungan.

“Tapi Raja Pandita tidak mau, sehingga diasingkan ke Banjarmasin (Kalimantan Selatan). Dari Banjarmasin, dia mendapat istri bernama Teah. Selanjutnya, Raja Pandita dilempar lagi ke Batavia,” kata Nafsir.